menata produk fashion

menata produk fashion


menata produk fashion

 Contoh Contoh Penataan Produk dari IG : @himasela atau instagram.com/himasela

A. Perencanaan Visual Pemberesan Produk

1. Pembenahan Produk

1.1 Pengertian Pemberesan produk

Perapihan produk diketahui juga dengan istilah display. Pembenahan produk (display) merupakan suatu sistem perapihan produk, terpenting produk barang yang diaplikasikan oleh perusahaan tertentu dengan tujuan untuk menarik ketertarikan konsumen.

1.2 Tujuan perapihan produk (display)

Adapun tujuan display bisa digolongkan sebagai berikut:

a) Attention dan interest customer, yaitu untuk menarik perhatian para pembeli dijalankan dengan sistem memakai warna-warna, lampu – lampu dan sebagainya

b) Desire dan action customer yaitu untuk menimbulkan keinginan memilki barang-barang yang dipamerkan di took tersebut, sesudah masuk ke toko, kemudian melaksanakan pembelian

1.3 Komponen- komponen display

a) Window display, adalah memajang barang-barang, gambar-gambar kartu harga, symbol-simbol dan sebagainya di komponen depan toko, yang disebut etalase. Adapun tujuan window display yaitu sebagai berikut:

§ Untuk menarik perhatian konsumen yang melewati

§ Mengucapkan kwalitas yang bagus atau harga yang murah sebagai cirri khas dari took tersebut

§ Memancing perhatian kepada barang-barang istimewa yang dijual di took

§ Untuk menimbulkan impulse buying (dorongan segera)

§ Supaya memunculkan energi tarik terhadap keseluruhan suasana toko

b) Interior display merupakan memajangkan barang-barang, gambar-gambar kartu –kartu harga dan poster-poster di dalam took. Interior Display ini ada sebagian jenis, yakni:

§ Open display

§ Closed display

§ Architectural display

c) Exterior display yakni pemberesan yang dilakukan dengan memajangkan barang-barang di luar toko, contohnya pada waktu mengadakan obral dan pasar malam.

1.4 Pertanda-hal yang perlu diperhatikan dalam hal menata produk (display)

§ Store design dan decoration, ialah pedoman-tanda yang berupa diantaranya symbol-simbol, lambang-lambang, poster-poster, gambar-gambar bendera-bendera, dan semboyan-slogan. Golongan-tanda ini diletakan diatas meja atau digantung di dlaam took

§ Dealer display yaitu pembenahan yang dikerjakan dengan sistem wholesaler yang terdiri atas symbol-simbol dan petunjuk-pertanda seputar pemakaian produk.

1.5 Pemberesan Penataan Produk

Barang diistilahkan sebagai atribut dan secara jasmani dapat diraba dalam format yang riil., meski makna produk berdasarkan Stanton ialah suatu sifat yang rumit, bagus bisa diraba, maupun tidak bisa diraba, termasuk bungkus, warna, harga, prestise perusahaan, dan pengecar, serta pelayanan perusahaan yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan harapan atau kebutuhannya.

Barang-barang dikelompokan menjadi dua, yaitu:

1. Kelompok barang menurut kepuasan segera dan kesejahteraan konsumen bentang panjang.

a. Solutary Product (barang yang berguna)

b. Deficient product (barang yang kurang total)

c. Pressing product (barang yang sifatnya menyenangkan)

d. Desirable product (barang yang betul-betul diperlukan)

2. Kategori barang menurut tujuan penerapan

a. Barang konsumsi (consumer goods) yaitu barang yang bisa dibeli untuk dikonsumsi

1) Convenience goods (barang keperluan sehari-hari): barang pokok, barang impulsif, dan barang darurat

2) Shopping goods (barang belanjaan)

3) Speciality goods (barang khusus)

4) Unsought goods (barang yang tak dicari)

b. Barang industri (industrial goods) ialah barang yang dibeli untuk diproses lagi atau untuk kepentingan dalam industri. Barang industri bisa digolongkan sebagai berikut:

1) Bahan dan suku cadang

2) Barang modal: instalasi, kelengkapan ekstra

3) Pembekalan dan pelayanan (suply end service):

pembekalan operasional, jasa pengarahan bisnis, konsultasi bisnis manajemen, dan biro iklan.

3. Barang – barang di supermarket

Barang dikelompokan menjadi tiga merupakan: barang supermarket, barang fresh, dan barang fashion. Barang-barang supermarket meliputi departemen-departemen berikut ini:

a. Departemen food merupakan mencakup segala makanan, terpenting makanan ringan (snack) yang banyak dikonsumsi oleh buah hati-buah hati.

b. Departemen non food yaitu mencakup barang-barang selain makanan

c. Departemen house hold yaitu peralatan rumah tangga

d. Departemen toys yaitu sebuah sarana atau tempat atau barang-barang yang disediakan khusu untuk si kecil-si kecil

e. Departemen stationary meliputi seluruh peralatan tulis dan kantor

4. Jenis, sifat dan spesifikasi barang supermarket

Ragam barang supermarket telah ditetapkan dalam pembagian departemen dan pembagian hal yang demikian merupakan pengklasifikasian barang berdasarkan tipe-jenisnya. Sifat barang supermarket ialah perbedaan sifat atau karakter antara barang yang satu dengan yang lainnya pada departemen yang sama, seumpama perbedaan sifat drinks dan biscuits, yang bersifat makanan dan minuman yang sama-sama pada departemen foods . Spesifikasi barang supermarket adalah perbedaan mutu dan kuantitas variasi barang dengan merek yang berbeda dalam satu sifat dan satu departemen semisal fruits tea dan fresh tea

1.6 SOP (Standard Operating Procedure) Perapihan Produk dari Suatu Perusahaan

SOP perapihan produk adalah langkah-langkah yang harus dicapai pada pemberesan produk yang dijadikan rujukan (standar) dalam penataan untuk menarik perhatian konsumen untuk keputusan membeli. Upaya membenahi produk disebut juga dengan istilah visual merchandising (VM).

Visual merchandising merupakan pembenahan produk yang tujuannya untuk menarik perhatian konsumen, dimana langkah-langkah dalam VM di antaranya dapat dilaksanakan dengan display dan label.

1. Labelling

Ketentuan barang yang akan di display seharusnya diteliti khususnya dahulu, mencakup :1) apakah sudah dikasih label atau belum, 2) jikalau tak perlu dilabel sebab sudah mempunyai bar code, apakah bar code tersebut telah di input ke pkomputer atau belum. Pemakaian label mesti memuat berita perihal : tanggal receiving, kode barang (PLU), kode suplier, bar code, harga jual (tidak senantiasa ada) dan memeriksa kesesuaian antara brand (merek), article (macam), size (ukuran).

2. Display

Display adalah suatu tindakan menunjukkan, menaruh, meletakan produk pada suatu tempat sedemikian rupa sehingga menarik perhatian. SOP Display di swalayan untuk barang supermarket paling awal yang semestinya dipandang yakni penerapan ruangan. Kategori ruangan sepatutnya disesuaikan dengan hal berikut ini:

a. Gunakan product

b. Ukuran kemasan

Ada lima cara pendisplayan sebagai model pedoman pemberesan produk antara lain sebagai berikut:

a. letakan barang sesua ukuran besar atau berkesan berat dibawah dan barang ukuran kecil berkesan lebih ringan diatas.

b. Usahakan untuk mendapatkan tinggi barang yang sama

c. Facing suatu produk menghadap ke depan

d. Usahakan tinggi tiap-tiap jalur sama (top sky line)

e. Pensupport eye teckniqueleye catching dan colour breaking yang memiliki tujuan memajangkan barang supaya ada perhatian dari konsumen

Manfaat Display bagi perusahaan yaitu:

a. Meningkatkan penjualan

b. Meningkatkan store image

c. Meminimumkan out of stock (barang yang kososng) dan

d. Mengidentifikasi laku tidaknya suatu produk

Peralatan pendisplayan yang bagus diantaranya yakni:

a. POP adalah suatu himbauan yang dimaksudkan kepada pembeli supaya timbul kemauan untuk membeli

b. Metode Display barang supermarket

c. Istilah dan perlengkapan Display barang supermarket

d. Pembenahan penataan produk supermarket. Diantaranya adalah 1) barang supermarket yang akan ditempatkan hendaknya berurutan terdiri atas beberap ragam barang, 2) brand blocking secara vertikal, 3) brand Blocking secara horizontal

1.7 Keterampilan Menginterpetasikan Perencanaan Visual Pembenahan Produk

Keterampilan yang diperlukan dalam menginterpretasikan perencanaan visual perapihan produk yaitu :

a. Memilih segmentasi pasar

b. Mengidentifikasi barang

c. Mengerjakan produk pantas prosedur perusahaan dan

d. Cermat kode etik PLI bagian 2 dalam visual merchandising

Dalam menginterpretasikan perencanaan visual penataan produk diperlukan sikap-sikap yang baik sesuai dengan pedoman SOP, yakni:

a. Semestinya. Mengobrol jitu dalam menginterpretasikan perencanaan visual hal yang demikian. Diantaranya dapat dijalankan dengan sistem:

Spesifikasi barang dengan benar

Berdiri, duduk, dan gerakan sesuai kebutuhan

Regulasi jelas dan lantang

Lakukan seperti baru pertama kali

Dorong diri dengan kalimat yang gigih, dan

Berikan perhatian kepada persoalan interpretasi visual

b. Teliti

c. Bertanggung jawab

Contoh Contoh Perencanaan Visual Penataan Produk


menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

BAB II

MEMONITOR PENATAAN ATAU DISPLAY PRODUK

1. Perlindungan Konsumen

1.1 Pasal 7 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 perihal Perlindungan Konsumen

a. Pertimbangan Presiden Republik Indonesia

b. Landasan Lantas Perlindungan Konsumen

Dengan persetujuan Dewan perwakilan rakyat Republik Indonesia memastikan dan memutuskan pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Adapun keharusan pelaku usaha yang tertuang dalam pasal 7 tersebut antara lain sebagai berikut:

a) Beritikad baik dalam melakukan kesibukan usahanya

b) Memberikan kabar yang benar, jelas, dan jujur mengenai jaminan barang / jasa serta memberi penjelasan penerapan, koreksi dan pemliharaan

c) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur, serta tak deskriminatif

d) Menjamin kwalitas barang / jasa yang diproduksi dan / atau diperdagangkan berdasarkan ketetapan standar kualitas / jasa yang berlaku

e) Memberikan kepada konsumen untuk menguji, dan / atau mencoba barang yang diciptakan atau yang diperdagangkan

f) Memberi kompensasi , ganti rugi, dan atau penggantian atas kerugian pengaruh penggunaan, pemakaian atau pemanfaatan barang dan / atau jasa yang diperdagangkan

g) Memberi kompensasi, ganti rugi, dan atau penggantian barang dan / atau jasa yang diterima atai dimanfaatkan tidak pantas dengan perjanjian.

APLI (Asosiasi Penjualan Segera Indonesia) yakni asosiasi nasional dari perusahaan penjualan segera yang mewakili kepentingan industri penjualan langsung di Indonesia

1. Ruang Lingkup kode etik

Kode etik sedunia diterbitkan oleh Federasi Sedunia Asosiasi Penjualan Langsung (WFDSA. Kode etik ini juga berlaku untuk para member asosiasi nasional penjualan segera yang tergantung pada WFDSA. Kode etik ini bertujuan memberikan kepuasan dan perlindungan terhadap seluruh pihak yang berkepentingan, memajukan persaingan yang sehat dalam rangka system dunia usaha bebas, dan peningkatan citra lazim dari aktivitas penjualan segera.

2. Istilah-istilah mengenai kode etik. Untuk keperluan kode etik diterapkan istilah-istilah sebagai berikut:

a) Penjualan langsung

b) APLI (Asosiasi Penjualan Segera Indonesia)

c) Perusahaan penjualan segera

d) Penjual lantas

e) Produk

f) Konsumen

g) Penjualan

h) Penjualan arisan

i) Formulir pesanan

j) Perekrutan

k) Administrator kode etik

1. Asosiasi

APLI berjanji untuk menganut suatu kode etik yang meliputi substansi-substansi dari ketentuan – ketetapan di dalam kode etik WFDSA, UUPK dan instansi pemerintah yang berhubungan, sebagai suatu prasyarat untuk diterima dan dipertahankan sebagai member WFDSA

2. Perusahaan

Ketentuan perusahaan anggota APLI bermufakat akan menaati kode etik sebagai persyaratan diterima menjadi dan dipertimbangkan sebagai member APLI. Ketetapan perusahaan penjualan berjenjang patut berbadan hokum (PT) dan mesti memiliki izin usaha yang berlaku

3. Penjual Segera

Penjual segera tak berkaitan secara langsung oleh kode etik ini, melainkan perusahaan semestinya mewajibkan para penjual segera untuk berpegang teguh pada ketetapan nya ataupun pada perarturan-tata tertib perilaku yang memenuhi standar perusahaan sebagai syarat keanggotaan pada perusahaan hal yang demikian.

4. Hukum Diri Sendiri

Kode etik ini adalah alat untuk mengatur diri sendiri dalam industri penjualan segera. Kode etik ini bukan Undang –Undang dan keharusan –keharusan yang dibebankan untuk menuntut suatu perilaku etis yang melampaui tuntutan persyaratan peraturan yang berlaku

5. Lantas

Perusahaan-perusahaan dan para penjual segera dianggap telah menaati prasyarat-persyaratan regulasi. Oleh sebab itu, kode etik ini tidak menyebutkan seluruh kewajiban aturan yang ada

6. Standar

Kode etik ini memuat standar perilaku etis bagi perusahaan penjualan segera dan para penjual langsung. APLI dapat merubah standar ini, asalkan substansi kode etik terpelihara atau tetap seperti yang telah dipersyaratkan oleh peraturan nasional

2.2 Undang-Undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Pasal 7 Undang-Undang No.8 tahun 1999 yang membahas tentang keharusan pelaku usaha, sudah diuraikan pada aktivitas belajar sebelumnya. Pada aktivitas belajar ini akan disinggung mengenai hak dan keharusan konsumen yang berkaitan dengan hak dan keharusan pelaku usaha sebagaimana yang tersirat pada pasal 6 dan pasal 7.

Hak konsumen diceritakan dalam pasal 7 yang 9 butir. Adapun keharusan konsumen diceritakan pada pasal 5 antara lain sebagai berikut:

1. Membaca atau meniru petunjuk informasi dan prosedur pengaplikasian atau pemanfaatan barang atau jasa demi keamanan dan keselamatan

2. Beritikad bagus dalam melakukan transaksi pembelian

3. Membayar layak dengan skor tukar yang telah disepakati

4. Langsung upaya penyelesaian tata tertib sengketa perlindungan konsumen secara seharusnya

2.3 Kode etik Asosiasi penjualan Lantas Indonesia (APLI) komponen 2 tentang perilaku terhadap Konsumen

Dalam kode etik APLI komponen 2 diuraikan perilaku penjual atau perusahaan terhadap konsumen sebagai berikut:

1. Perilaku kepada kosumen

a. Praktik-praktik terlarang

b. Identifikasi

c. Penjelasan dan peragaan

d. Menjawab pertanyaan

2. Pertanda-hal yang harus dilihat oleh penjual langsung atau perusahaan

a. Formulir pesanan

b. Adalah-janji lisan

c. Penyejukan dan pengembalian barang

d. Jaminan dan pengembalian barang

e. Literatur

f. Kesaksian

g. Perbandingan dan pencemaran

h. Hormat pada hak pribadi

i. Kewajaran (keadilan)

j. Penyerahan barang

k. Daftar harga

2.4 Segmentasi pasar, targeting dan positioning

2.4.1 Segmentasi pasar

Dalam strategi pasar, biasanya ditetapkan tentang segmentasi pasar, targeting, dan positioning. Dalam penentuan segmentasi pasar dapat ditetapkan dengan sistem menjawab pertanyaan berikut ini :

a. Siapa pelanggan yang akan membeli produk yang akan dipasarkan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, jawabannya dapat diketahui dengan metode mengelompokan pelanggan dari segi demografis dan geografis.

b. Apa yang yang dikehendaki oleh pelanggan

c. Apa yang dibeli pelanggan

d. Dimana pelanggan bisa dijangkau

2.4.2 Targeting

Dalam memutuskan sasaran pasar, khususnya dalam produk fashion lebih-lebih dahulu target pelanggan mana yang akan dilayani pantas dengan potensi daerah perusahaan berada, misalnya sebagai berikut:

a. Apakah sasaran yang akan diambil berdasarkan geografis

b. Apakah sasaran yang akan diambil menurut demografis

c. Apakah target yang diambil itu menurut produk yang dikehendaki pelanggan

d. Produk apakah yang banyak dibeli pelanggan

e. Apakah pelanggan hal yang demikian bisa dijangkau dari tempat pembelanjaan

2.4.3 Positioning

Yakni bisa ditentukan sasaran pemasaran, kemudian tentukan sikap, perbuatan, dan kedudukan cocok tingkatannya melewati berikut ini

a. Penentuan kebijakan supermarket dalam penentuan produk yang akan dijual

b. Penentuan kebiajakan supermarket dalam penentuan harga produk yang akan dijual

c. Kebijakan supermarket atau perusahaan untuk menentukan unsur pensupport sarana prasarana dan pegawai dalam penjualan barang dengan berbagai pertimbangan

d. Kebijakan supermarket atau perusahaan untuk mempertimbangkan dalam mempromosikan barang atau produk yang akan dipasarkan dengan berbagai pertimbangan.

2.5 Produk Fashion

2.5.1 Pengertian Produk Fashion

Pengertian produk fashion adalah sebuah produk yang memiliki ciri-ciri khusus yang ideal dan mewakili style yang sedang tren dalam suatu kurun waktu tertentu. Fashion ialah pedoman dari dari suatu jangka waktu waktu, seringkali fashion menggambarkan kebudayaan, perasaan, pemikiran, dan gaya hidup orang –orang dalam satu kurun waktu

2.5.2 Karakteristik Produk Fashion

1. Sebuah produk dikatakan “fashionable” bila produk – produk tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut:

o Konsumen bersedia untuk melowongkan waktu, uang dan dayanya untuk memperoleh produk ini

o Jenis produk yang dapat mempertinggi image retailer dan traffic konsumen

o Tipe produk berbeda dengan produk sejenis (dalam hal style) yang dikeluarkan oleh saingan

2. Kriteria barang fashion. Barang fashion kriterianya ada yang disebut barang putus (barang yang dibeli dengan cara putus, artinya seluruh sesuatu setelah barang tersebut dibeli menjadi resiko pembeli) dan barang konsinyasi (barang milik suplier yang dititipkan)

3. Lingkup produk fashion. Pengelompokan produk fashion secara garis besar ; ada baju wanita dan ada pula baju pria.

4. Tipe-macam produk fashion

Pakaian detailnya macam-macam produk fashion meliputi:

a. Pakaian wanita

b. Baju pria

c. Pakaian buah hati laki-laki

d. Pakaian anak perempuan

e. Baju bayi

f. Selain bayi

g. Selain bayi kecil

h. Kecuali makan

i. bayi kelengkapan main bayi

j. tolletris

k. aksesori

l. ransel wanita tas pria

m. sepatu dewasa pria, sepatu buah hati-anak perempuan

n. sepatu anak laki-laki

o. kosmetik

5. Ukuran-ukuran produk fashion

6. Kriteria pemilihan fashion dapat dipilih melalui pemilihan warna, tekstur dan style.

Dalam warna terdapat sifat warna, ialah kesamaan yang ditimbulkan oleh warna tersebut. Sifat warna meliputi: warm colour, cool colours dan neutrals. Style atau gaya ialah karakter atau ciri-ciri khusu yang membedakan satu produk fashion dengan produk yang lainnya dan mempengaruhi opini konsumen tentang suatu gaya yang sedang populer. Baju itu kriteria dan elemen pemilihan produk fashion yaitu pemilihan praktis produk fashion, pengepasan dan kamar pas, kelayakan (apropriateness), merek (branded), ketahanan dan perawatan bahan atau kain dan kerapihan

7. Jenis-variasi kain.

Tiap variasi kain dibuat dari serat kain yang dibedakan atas serat alam dan serat buatan

8. Sifat-sifat serat kain dipengaruhi oleh struktur fisika dan kimianya yang meliputi:

tenaga, mulur, dan elsastisitas , tenaga serap, keliatan, energi dan ketahanan kimia.

9. Pemeliharaan pakaian jadi. Baju jadi yaitu produk tekstil yang dalam hal pemeliharaannya mengenal beberapa istilah, simbol atau gabungan antara keduanya (istilah dan simbol).

Ada beberapa sistem label pemeliharaan pakaian jadi yang banyak dipakai, adalah sebagai berikut:

a. Label pemeliharaan metode amerika

b. Label pemeliharaan metode Kanada

c. Label pemeliharaan metode Eropa

d. Label pemeliharaan sistem Inggris

e. Label pemeliharaan sistem Indonesia

f. Label pemeliharaan sistem Jepang

2.5.3 SOP (Standard Operating Procedure) Pembenahan Produk Fashion

SOP dalam penataan produk fashion untuk visual merchandising langkah-langkahnya adalah pengetahuan prinsip penataan, pelabelan, dan pendisplayan

a. Prinsip penataan barang fashion mencakup pembenahan barang baru, pemberesan barang yang tidak lengkap, wagon display, penerapan fixture kombinasi antara rak-rak T-stand , pengaplikasian bracket dan hook khusus di pilar jika stok barang sedang dalam situasi menurun atau sedikit, pemajangan sepatu dan sandal pria wanita, pemajangan sepatu si kecil, pemajangan sepatu bayi, pemajangan tas, pemajangan ikat pinggang dan pemajangan aksesori.

b. Labelling. langkah pertama dalam mengerjakan visual merchandising dengan pen display an barang fashion merupakan pelabelan. Ketentuan barang yang datang ke gudang, baik dari DC maupun dari suplier (pemasok) semestinya melewati proses pelabelan (menempelkan label pada harga tag)

c. Display. Langkah kedua dalam visual merchandising pemberesan barang fashion yakni pen displa an. Langkah-langkah pen display an produk fashion diantaranya ialah penentuan kriteria, teknik pemajangan, dan penerapan lemari kaca atau showcase

d. Visual presentation dan media nya. Kelompok visual presentation harus tepat dan benar diataranya sarana-sarana tersebut yaitu sebagai berikut:

1) Show window atau window display

2) Center point

3) Stage display

4) Vocal point

5) Wall display

e. Alat bantu display fashio. Alat bantu display produk fashion ialah sebagai berikut: fixture, t-stand, gawang, hanger, dress making, swastika, showcase, hambalan,wagon, table presentation, manequine, torso, plat form, water fall, back wall, fitting room, bracket, single hook.

2.5.4 Keterampilan yang mesti dimiliki dalam memonitor pembenahan produk

1. Perhatikan display produk pantas perencanaan ialah bisa dilakukan dengan metode mengukur ulang yang disesuaikan dengan perencanaan, kelengkapan, peralatan, daerah dan produk yang di- diplay dengan teknik yang diterapkan

2. Menidentifikasi kerusakan atau perubahan pada display bisa dijalankan dengan cara membentuk dan mengelompokan barang dari segi kerusakan atau perubahan.

3. Amati setiap perubahan pada display , dapat dikerjakan dengan penataan ulang kepada display yang rusak dan berubah dari perencanaan.

2.5.5 Sikap dalam memonitor perapihan atau display produk

Sikap-sikap yang dibutuhkan dikala memonitor perapihan produk digambarkan sebagai berikut:

1. Sepatutnya.

Pelayan saat memonitor display produk haruslah jitu, diantaranya dengan metode

a. Identifikasi barang dengan benar

b. Berdiri, duduk dan gerakan sesuai kebutuhan

c. Lakukan seperti yang pertama kal, dan

d. Berikan perhatian kepada display produk

2. Teliti.

Pelayan seharusnya teliti dalam memonitor pemberesan produk. Diantaranya bisa dilaksanakan dengan sistem:

a. Menurut tiap-tiap pengerjaan yang dilakukan

b. Berdasarkan dengan seksama barang yang telah dirapikan, dan

c. Periksa barang dan dokumen-dokumen barang yang ditata apakah sudah dipasangkan

3. Bertanggung jawab.

Pelayan harus bertanggung jawab dalam memonitor perapihan produk sesuai dengan tingkat wewenangnya pada perusahaan tersebut.

Segmentasi Pasar

Segmentasi pasar adalah pengelompokan pasar menjadi klasifikasi-kelompk konsumen yang homogen, di mana tiap-tiap klasifikasi (komponen)bisa dipilih sebagai pasar yang dituju (ditargetkan) untuk pemasaran suatu produk. Menurut pasar mempunyai pengertian yang berbeda, menurut lingkupnya, ialah sebagai berikut:

a. Menurut pengertian yuridis

b. Berdasarkan pedagang

c. Menurut manajer

d. Berdasarkan spesialis ekonomi

e. Berdasarkan seorang pemasar

Objek motif beli dari para konsumen untuk membeli suatu produk, pasar bisa dibagi atau dikelompokan sebagai berikut:

a. Pasar konsumen

b. Pasar produsen

c. Pasar pedagang

d. Pasar pemerintah

e. Pasar internasional

Tujuan adanya segmentasi pasar yaitu sebagai berikut:

a. Menyalurkan uang dan usaha ke pasar potensial yang paling menguntungkan

b. Merencanakan produk yang dapat memenuhi permintaan pasar

c. Elemen cara-metode promosi yang paling pas bagi perusahaan

d. Memilih media advertensi yang lebih bagus danmenemukan bagaimana mengalokasikannya secara baik

e. Tarif waktu yang sebaik-baiknya dalam usaha promosi

f. Dan sebagainya

Segmentasi pasar atau pengelompokan pasar supaya bisa berjalan dengan efektiv sepatutnya memenuhi prasyarat-syarat pengelompokna pasar, yakni: measurability, accesability, substantiability.

Adapun dasar-dasar segmentasi pasar yang penting yaitu: geographic variables, demographic variables, psychographic variables, dan buyer behavior variability.

Dalam mendekati suatu pasar yang baru, akan senantiasa timbul empat pertanyaan mengenai “4O”, yaitu:

a. Sasaran pembelian, adalah mengenai apa yang dibeli

b. Objektivitas pembelian, adalah mengenai mengapa seseorang membeli

c. Organisasi pembelian, ialah mengenai siapa yang membeli atau yang berperan dalam pembelian

d. Operasi pembelian, yaitu mengenai bagaimana membelinya.

Berdasarkan-faktor yang mempengaruhi dalam penentuan segmentasi pasar yang akan dituju oleh perusahaan, merupakan:

1. Ukuran segmen

2. Pertumbuhan segmen

3. Posisi persaingan

4. Cara untuk mencapai segmen

5. Kesesuaian tujuan dengan kesanggupan perusahaan

Mengetahui Pasar

Berdasarkan Kenneth Andrew, strategi yakni pola keputusan dalam perusahaan yang menetapkan dan menyuarakan sasaran, maksud atau tujuan yang menghasilkan kebijakan utama, dan merencanakan untuk menempuh tujuan serta merinci jangkauan bisnis yang akan dikejar perusahaan.

Dalam pembahasan taktik pemasaran pada bagian ini dikhususkan pada bisnis eceran, sebab bisnis eceran yakni salah satu jual beli yang seketika melayani konsumen akhir. Istilah lain dari eceran adalah retailing, yang dari segi bahasa artinya memotong kembali, membagi hingga potongan-potongan menjadi depertemen-departemen.

Ciri khas dari bisnis retailing ialah penjualan barang-barang atau benda –benda pada konsumen akhir (bukan wholesaler)

Konsep pemasaran berasal dari kata dasar pasar (market), adalah adanya potensi permintaan (demand), diantaranya dari orang –orang kepada produk

Konsep penjualan berorientasi pada pola produk yang sudah hadir (existing product) dan berikutnya diupayakan supaya produk tersebut laku terjual

Konsep pemasaran berorientasi pada pemuasan dan untuk kepuasan pasar, padahal konsep penjualan berorientasi pada hasil penjualan dan profit

Target penjualan merupakan bagian dari pemasaran. Pemasaran bertolak dari posisi sebelum absensi produk, meskipun penjualan berposisi setelah kehadiran produk

Adapun tujuan dari strategi pemasaran diantaranya untuk;

a. Setelah keperluan pasar (market need identification)

b. Produsen menghadirkan produk cocok permintaan

c. Upaya menyalurkan produk terhadap konsumen akhir supaya laku terjual dengan harga layak

Mengetahui pasar merupakan memilih kelompok konsumen mana yang akan dilayani dalam penjualan. Mengetahui pasar ditetapkan oleh perusahaan supaya produk hingga pada pasar yang telah direncanakan. Adapun ancaman-ancaman yang memberi pengaruh perusahaan dalam mendapatkan laba yang semestinya dilihat adalah :

a. Pesaing yang ada sebelumnya

b. Pendatang baru

c. Produk substitusi

d. Meningkatnya kesanggupan menawar

e. Meningkatnya harga produk

Positioning

Langkah langkah dalam perumusan strategi pemasaran, secara khusus dalam bisnis eceran, merupakan menetapkan segmentasi pasar, memutuskan target pasar, dan terakhir menentukan positioning. Yaitu dapat ditentukan target pemasarannya, kemudian ditetapkan sikap perbuatan, dan kedudukan pantas levelnya, yakni via hal-hal berikut ini:

1. Produk

layak sasaran marketing yang telah ditetapkan

Produk life cycle

2. Harga

Penentuan cost (biaya) lewat harga –harga pokok sumber segera

dengan pola kompetisi

3. Place

Penentuan lembaga / faktor struktural yang bisa dimanfaatkan untuk penyaluran

Penentuan unsur logistik yang menyangkut arus, waktu, kuantitas, arah tujuan dan pembiayaan

4. Promosi

Personal selling

Publicity

Advertising

Sales promotion

Contoh Contoh Perencanaan Visual Penataan Produk


menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

menata produk fashion
Perencanaan Visual Penataan Produk (sumber gambar IG : @himasela atau instagram.com/himasela)

  • Leave Comments